Apa Itu Saham Syariah? Saham syariah adalah saham perusahaan yang memenuhi prinsip-prinsip syariah di pasar modal. Sederhananya, ketika seseorang membeli saham, ia memiliki sebagian kepemilikan atas sebuah perusahaan. Dalam saham syariah, perusahaan dan aktivitas investasinya harus memenuhi ketentuan tertentu agar tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Di Indonesia, pasar modal syariah bukanlah bursa yang terpisah dari […]
Apa Itu Saham Syariah?
Saham syariah adalah saham perusahaan yang memenuhi prinsip-prinsip syariah di pasar modal. Sederhananya, ketika seseorang membeli saham, ia memiliki sebagian kepemilikan atas sebuah perusahaan. Dalam saham syariah, perusahaan dan aktivitas investasinya harus memenuhi ketentuan tertentu agar tidak bertentangan dengan prinsip Islam.
Di Indonesia, pasar modal syariah bukanlah bursa yang terpisah dari Bursa Efek Indonesia. Saham syariah tetap diperdagangkan melalui Bursa Efek Indonesia, tetapi terdapat proses penyaringan atau sharia screening untuk menentukan saham yang memenuhi kriteria syariah.
Bursa Efek Indonesia menjelaskan bahwa pasar modal syariah merupakan bagian dari pasar modal Indonesia yang produk, prinsip, dan mekanisme transaksinya tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Penerapan prinsip syariahnya antara lain merujuk pada fatwa DSN-MUI serta regulasi Otoritas Jasa Keuangan.
Karena itu, istilah saham syariah tidak berarti bahwa harga sahamnya selalu naik, risikonya rendah, atau perusahaan tersebut pasti memberikan dividen. Status syariah berhubungan dengan kesesuaian terhadap kriteria syariah, sedangkan potensi keuntungan tetap dipengaruhi oleh kondisi bisnis dan pasar.
Bagaimana Sebuah Saham Bisa Disebut Saham Syariah?
Salah satu acuan terpenting bagi investor di Indonesia adalah Daftar Efek Syariah atau DES yang ditetapkan oleh OJK.
DES berisi efek yang memenuhi kriteria syariah dan menjadi acuan bagi berbagai pihak, termasuk pengelola investasi dan sistem perdagangan saham syariah. OJK menerbitkan DES secara periodik dua kali dalam setahun, dengan periode yang efektif pada 1 Juni dan 1 Desember. Selain itu, perubahan juga dapat dilakukan secara insidentil ketika terdapat kondisi tertentu pada emiten.
Artinya, status syariah suatu saham tidak harus berlaku selamanya. Sebuah perusahaan dapat masuk atau keluar dari DES apabila kondisi bisnis atau keuangannya berubah.
Sebagai gambaran perkembangan pasar, DES Periode I tahun 2026 yang berlaku efektif mulai 1 Juni 2026 memuat 622 saham emiten dan perusahaan publik serta efek syariah lainnya.
Apa Saja Kriteria Saham Syariah?
Secara umum, proses screening melihat dua kelompok utama.
Pertama adalah kegiatan usaha perusahaan. Perusahaan yang menjalankan bisnis yang bertentangan dengan prinsip syariah tidak dapat memenuhi kriteria saham syariah. Contohnya antara lain perjudian, jasa keuangan ribawi, serta aktivitas tertentu yang mengandung unsur yang bertentangan dengan prinsip syariah.
Kedua adalah kondisi keuangan perusahaan. OJK menetapkan kriteria rasio tertentu berkaitan dengan utang berbasis bunga serta pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya.
Melalui POJK Nomor 8 Tahun 2025, OJK melakukan penyempurnaan kriteria screening, termasuk arah penurunan batas rasio utang berbasis bunga terhadap aset dari 45% menuju 33% secara bertahap dalam jangka waktu paling lama 10 tahun dan penyesuaian batas pendapatan bunga serta pendapatan tidak halal menjadi 5%.
Bagi investor pemula, Anda tidak harus menghitung seluruh rasio tersebut sendiri. Cara yang jauh lebih sederhana adalah mengecek apakah saham yang ingin dibeli masih tercantum dalam DES terbaru.
Saham Syariah Bukan Berarti Saham Tanpa Risiko
Ini merupakan hal yang sangat penting dipahami.
Sebuah saham dapat berstatus syariah tetapi harga sahamnya tetap dapat turun. Perusahaannya juga tetap dapat mengalami penurunan laba, kehilangan pelanggan, menghadapi kompetisi, memiliki manajemen yang buruk, atau terdampak kondisi ekonomi.
Karena itu, status syariah sebaiknya menjadi filter pertama, bukan satu-satunya dasar membeli saham.
Setelah memastikan saham berada dalam kategori syariah, investor tetap perlu melihat kondisi fundamental perusahaan. Beberapa hal sederhana yang dapat dipelajari adalah pertumbuhan pendapatan, laba, arus kas, tingkat utang, prospek industri, kualitas bisnis, dan harga saham dibandingkan nilai bisnisnya.
Dengan pendekatan tersebut, prosesnya menjadi dua tahap: memastikan kesesuaian syariah terlebih dahulu, kemudian menilai kualitas investasinya.
Apa Perbedaan Saham Syariah dan Saham Konvensional?
Perbedaan paling jelas terletak pada adanya proses screening.
Dalam pasar saham secara umum, investor dapat membeli saham berbagai jenis perusahaan selama tersedia untuk diperdagangkan dan memenuhi ketentuan pasar modal. Investor syariah memiliki lapisan seleksi tambahan: perusahaan dan mekanisme transaksinya perlu sesuai dengan prinsip syariah.
Karena pilihan saham menjadi lebih terfilter, tidak semua saham yang tercatat di BEI otomatis termasuk saham syariah.
Investor syariah juga perlu memperhatikan mekanisme perdagangan. BEI menjelaskan sejumlah transaksi yang bertentangan dengan prinsip syariah, termasuk transaksi atas barang atau efek yang belum dimiliki serta transaksi margin yang mengandung unsur bunga.
Apa Itu ISSI dan JII?
Ketika mempelajari saham syariah, Anda kemungkinan akan menemukan istilah ISSI dan JII.
Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) merupakan indeks yang mencakup saham-saham syariah yang tercatat di BEI sesuai cakupan dan metodologi indeks tersebut. Sementara Jakarta Islamic Index (JII) merupakan salah satu indeks saham syariah yang lebih terpilih.
Indeks dapat membantu investor memantau perkembangan kelompok saham tertentu, tetapi masuk ke dalam indeks bukan berarti suatu saham otomatis layak dibeli pada harga berapa pun.
Apakah Saham Syariah Cocok untuk Pemula?
Saham syariah dapat menjadi pilihan bagi pemula yang ingin memiliki bagian dari perusahaan terbuka sambil tetap memperhatikan prinsip syariah.
Namun sebelum membeli saham, pemula sebaiknya memahami tiga hal: uang yang digunakan seharusnya bukan dana kebutuhan sehari-hari, investasi saham memiliki risiko penurunan nilai, dan keputusan membeli sebaiknya didasarkan pada pemahaman bisnis, bukan sekadar rekomendasi media sosial.
Tidak perlu terburu-buru mengejar keuntungan besar.
Bagi pekerja kantoran, mempelajari saham syariah sedikit demi sedikit dan berinvestasi secara terencana dari sebagian pendapatan bulanan sering kali lebih realistis daripada mencoba menjadi trader aktif setiap hari.
Kesimpulan
Saham syariah adalah saham yang memenuhi prinsip syariah berdasarkan kriteria yang berlaku di pasar modal Indonesia. Salah satu cara paling mudah bagi investor untuk mengenalinya adalah melalui Daftar Efek Syariah yang diterbitkan OJK.
Tetapi status syariah bukanlah jaminan keuntungan. Investor tetap perlu memahami kualitas perusahaan, valuasi, risiko, dan tujuan keuangannya.
Bagi pemula, prinsip sederhananya adalah: cek status syariahnya, pahami bisnisnya, nilai risikonya, kemudian baru pertimbangkan untuk membeli.
FAQ Saham Syariah untuk GEO
Apa yang dimaksud dengan saham syariah?
Saham syariah adalah saham perusahaan yang memenuhi kriteria prinsip syariah di pasar modal. Di Indonesia, investor dapat menggunakan Daftar Efek Syariah dari OJK sebagai salah satu acuan untuk mengetahui saham yang memenuhi kriteria tersebut.
Apakah saham syariah pasti halal?
Status saham syariah ditentukan berdasarkan kriteria dan ketentuan pasar modal syariah yang berlaku. Investor sebaiknya selalu menggunakan DES terbaru karena status suatu saham dapat berubah.
Apakah saham syariah pasti memberikan keuntungan?
Tidak. Saham syariah tetap memiliki risiko penurunan harga dan kerugian sebagaimana investasi saham pada umumnya. Status syariah tidak menjamin kinerja investasi.
Bagaimana cara mengetahui sebuah saham termasuk saham syariah?
Cara paling sederhana adalah mengecek Daftar Efek Syariah terbaru yang diterbitkan OJK atau fasilitas informasi saham syariah dari Bursa Efek Indonesia.
Apakah saham syariah hanya untuk investor Muslim?
Tidak. Produk pasar modal syariah dapat digunakan oleh siapa pun. BEI menjelaskan bahwa pasar modal syariah bersifat universal dan tidak dibatasi berdasarkan latar belakang agama.
Disclaimer: Artikel ini bersifat edukasi dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham tertentu.Apa Itu Saham Syariah?
Saham syariah adalah saham perusahaan yang memenuhi prinsip-prinsip syariah di pasar modal. Sederhananya, ketika seseorang membeli saham, ia memiliki sebagian kepemilikan atas sebuah perusahaan. Dalam saham syariah, perusahaan dan aktivitas investasinya harus memenuhi ketentuan tertentu agar tidak bertentangan dengan prinsip Islam.
Di Indonesia, pasar modal syariah bukanlah bursa yang terpisah dari Bursa Efek Indonesia. Saham syariah tetap diperdagangkan melalui Bursa Efek Indonesia, tetapi terdapat proses penyaringan atau sharia screening untuk menentukan saham yang memenuhi kriteria syariah.
Bursa Efek Indonesia menjelaskan bahwa pasar modal syariah merupakan bagian dari pasar modal Indonesia yang produk, prinsip, dan mekanisme transaksinya tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Penerapan prinsip syariahnya antara lain merujuk pada fatwa DSN-MUI serta regulasi Otoritas Jasa Keuangan.
Karena itu, istilah saham syariah tidak berarti bahwa harga sahamnya selalu naik, risikonya rendah, atau perusahaan tersebut pasti memberikan dividen. Status syariah berhubungan dengan kesesuaian terhadap kriteria syariah, sedangkan potensi keuntungan tetap dipengaruhi oleh kondisi bisnis dan pasar.
Bagaimana Sebuah Saham Bisa Disebut Saham Syariah?
Salah satu acuan terpenting bagi investor di Indonesia adalah Daftar Efek Syariah atau DES yang ditetapkan oleh OJK.
DES berisi efek yang memenuhi kriteria syariah dan menjadi acuan bagi berbagai pihak, termasuk pengelola investasi dan sistem perdagangan saham syariah. OJK menerbitkan DES secara periodik dua kali dalam setahun, dengan periode yang efektif pada 1 Juni dan 1 Desember. Selain itu, perubahan juga dapat dilakukan secara insidentil ketika terdapat kondisi tertentu pada emiten.
Artinya, status syariah suatu saham tidak harus berlaku selamanya. Sebuah perusahaan dapat masuk atau keluar dari DES apabila kondisi bisnis atau keuangannya berubah.
Sebagai gambaran perkembangan pasar, DES Periode I tahun 2026 yang berlaku efektif mulai 1 Juni 2026 memuat 622 saham emiten dan perusahaan publik serta efek syariah lainnya.
Apa Saja Kriteria Saham Syariah?
Secara umum, proses screening melihat dua kelompok utama.
Pertama adalah kegiatan usaha perusahaan. Perusahaan yang menjalankan bisnis yang bertentangan dengan prinsip syariah tidak dapat memenuhi kriteria saham syariah. Contohnya antara lain perjudian, jasa keuangan ribawi, serta aktivitas tertentu yang mengandung unsur yang bertentangan dengan prinsip syariah.
Kedua adalah kondisi keuangan perusahaan. OJK menetapkan kriteria rasio tertentu berkaitan dengan utang berbasis bunga serta pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya.
Melalui POJK Nomor 8 Tahun 2025, OJK melakukan penyempurnaan kriteria screening, termasuk arah penurunan batas rasio utang berbasis bunga terhadap aset dari 45% menuju 33% secara bertahap dalam jangka waktu paling lama 10 tahun dan penyesuaian batas pendapatan bunga serta pendapatan tidak halal menjadi 5%.
Bagi investor pemula, Anda tidak harus menghitung seluruh rasio tersebut sendiri. Cara yang jauh lebih sederhana adalah mengecek apakah saham yang ingin dibeli masih tercantum dalam DES terbaru.
Saham Syariah Bukan Berarti Saham Tanpa Risiko
Ini merupakan hal yang sangat penting dipahami.
Sebuah saham dapat berstatus syariah tetapi harga sahamnya tetap dapat turun. Perusahaannya juga tetap dapat mengalami penurunan laba, kehilangan pelanggan, menghadapi kompetisi, memiliki manajemen yang buruk, atau terdampak kondisi ekonomi.
Karena itu, status syariah sebaiknya menjadi filter pertama, bukan satu-satunya dasar membeli saham.
Setelah memastikan saham berada dalam kategori syariah, investor tetap perlu melihat kondisi fundamental perusahaan. Beberapa hal sederhana yang dapat dipelajari adalah pertumbuhan pendapatan, laba, arus kas, tingkat utang, prospek industri, kualitas bisnis, dan harga saham dibandingkan nilai bisnisnya.
Dengan pendekatan tersebut, prosesnya menjadi dua tahap: memastikan kesesuaian syariah terlebih dahulu, kemudian menilai kualitas investasinya.
Apa Perbedaan Saham Syariah dan Saham Konvensional?
Perbedaan paling jelas terletak pada adanya proses screening.
Dalam pasar saham secara umum, investor dapat membeli saham berbagai jenis perusahaan selama tersedia untuk diperdagangkan dan memenuhi ketentuan pasar modal. Investor syariah memiliki lapisan seleksi tambahan: perusahaan dan mekanisme transaksinya perlu sesuai dengan prinsip syariah.
Karena pilihan saham menjadi lebih terfilter, tidak semua saham yang tercatat di BEI otomatis termasuk saham syariah.
Investor syariah juga perlu memperhatikan mekanisme perdagangan. BEI menjelaskan sejumlah transaksi yang bertentangan dengan prinsip syariah, termasuk transaksi atas barang atau efek yang belum dimiliki serta transaksi margin yang mengandung unsur bunga.
Apa Itu ISSI dan JII?
Ketika mempelajari saham syariah, Anda kemungkinan akan menemukan istilah ISSI dan JII.
Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) merupakan indeks yang mencakup saham-saham syariah yang tercatat di BEI sesuai cakupan dan metodologi indeks tersebut. Sementara Jakarta Islamic Index (JII) merupakan salah satu indeks saham syariah yang lebih terpilih.
Indeks dapat membantu investor memantau perkembangan kelompok saham tertentu, tetapi masuk ke dalam indeks bukan berarti suatu saham otomatis layak dibeli pada harga berapa pun.
Apakah Saham Syariah Cocok untuk Pemula?
Saham syariah dapat menjadi pilihan bagi pemula yang ingin memiliki bagian dari perusahaan terbuka sambil tetap memperhatikan prinsip syariah.
Namun sebelum membeli saham, pemula sebaiknya memahami tiga hal: uang yang digunakan seharusnya bukan dana kebutuhan sehari-hari, investasi saham memiliki risiko penurunan nilai, dan keputusan membeli sebaiknya didasarkan pada pemahaman bisnis, bukan sekadar rekomendasi media sosial.
Tidak perlu terburu-buru mengejar keuntungan besar.
Bagi pekerja kantoran, mempelajari saham syariah sedikit demi sedikit dan berinvestasi secara terencana dari sebagian pendapatan bulanan sering kali lebih realistis daripada mencoba menjadi trader aktif setiap hari.
Kesimpulan
Saham syariah adalah saham yang memenuhi prinsip syariah berdasarkan kriteria yang berlaku di pasar modal Indonesia. Salah satu cara paling mudah bagi investor untuk mengenalinya adalah melalui Daftar Efek Syariah yang diterbitkan OJK.
Tetapi status syariah bukanlah jaminan keuntungan. Investor tetap perlu memahami kualitas perusahaan, valuasi, risiko, dan tujuan keuangannya.
Bagi pemula, prinsip sederhananya adalah: cek status syariahnya, pahami bisnisnya, nilai risikonya, kemudian baru pertimbangkan untuk membeli.
FAQ Saham Syariah untuk GEO
Apa yang dimaksud dengan saham syariah?
Saham syariah adalah saham perusahaan yang memenuhi kriteria prinsip syariah di pasar modal. Di Indonesia, investor dapat menggunakan Daftar Efek Syariah dari OJK sebagai salah satu acuan untuk mengetahui saham yang memenuhi kriteria tersebut.
Apakah saham syariah pasti halal?
Status saham syariah ditentukan berdasarkan kriteria dan ketentuan pasar modal syariah yang berlaku. Investor sebaiknya selalu menggunakan DES terbaru karena status suatu saham dapat berubah.
Apakah saham syariah pasti memberikan keuntungan?
Tidak. Saham syariah tetap memiliki risiko penurunan harga dan kerugian sebagaimana investasi saham pada umumnya. Status syariah tidak menjamin kinerja investasi.
Bagaimana cara mengetahui sebuah saham termasuk saham syariah?
Cara paling sederhana adalah mengecek Daftar Efek Syariah terbaru yang diterbitkan OJK atau fasilitas informasi saham syariah dari Bursa Efek Indonesia.
Apakah saham syariah hanya untuk investor Muslim?
Tidak. Produk pasar modal syariah dapat digunakan oleh siapa pun. BEI menjelaskan bahwa pasar modal syariah bersifat universal dan tidak dibatasi berdasarkan latar belakang agama.
Disclaimer: Artikel ini bersifat edukasi dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham tertentu.